Hari ini aku ingin keluar. Aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa bosan, penat, dan pegal karena terus saja menidurkan diri di sofa keras ruang tengah sambil nonton gossip dan beberapa acara di TV yang sebenarnya tidak benar-benar aku tonton. Kakakku sudah bolak-balik beberapa kali sambil berdeham-deham. aku pikir mungkin dia sedang memberiku isyarat kalau "sekarang giliran gue nih yang nonton".
Setelah merasa terganggu dengan dehaman-dehamannya, aku pun bangun dari sofa, menggeliat beberapa kali, masuk ke kamar, lalu menjatuhkan badanku lagi ke tempat tidur. aku memang ingin keluar. tapi, kemana? dengan siapa? Dessy tidak ada di rumahnya, dan aku seperti seekor burung kecil yang kehilangan induknya. kesepian dan menderita.
"handphone ku kemana?" aku bergumam sendiri sambil mengodok bawah bantal, menyingkap selimut, menjatuhkan dua guling, dan... ahh. Handphone ku ketemu. dia sedang terongok tidak berdaya di sudut tempat tidur. aku menggapainya dan menatap layarnya. hmm. tidak ada satu SMS atau telpon pun yang masuk. aku melemparnya lagi.
"Arrrghhhhhhhhhhhhhhh!!!" aku menggeliat sambil meraung keras. aku juga mengacak-acak seprai jingga dengan kakiku. aku lalu berguling ke kanan dan ke kiri, dan melakukan gerakan-gerakan tidak jelas lainnya. setelah agak lelah, aku lalu menghadap tembok, dan bermain-main dengan bayangan tanganku. aku membentuk burung sedang terbang, laba-laba, dan pelatuk burung yang bisa bicara. Alhasil, sekarang aku bicara dengan diriku sendiri.
Bayangan tangan kananku kuberi nama si pelatuk kunyuk. dia bertanya, "lagi ngapain, Yaya?"
"kelihatannya lagi apa?" aku menjawab sambil menatap bayangan tanganku sendiri di tembok.
"hmm..." si pelatuk kunyuk bergumam. sepertinya dia sedang berpikir. "aku tahu, kau sedang bosan. tapi, apa nggak ada kegiatan lain? hmm. misalnya, ke... salon?"
"WHAT? ke salon?" aku memutarkan dua bola mataku. "satu-satunya salon yang ada di sini, namanya Jelita. dan kamu tahu sendiri kalau salon itu benar-benar.... buuuuu... ruk. kemarin aku potong rambut saja sampai salah model. creambath pijatannya nggak enak. dan nggak hanya itu saja, Si Jelitanya ini tuh biang gossip." kataku pada bayangan tanganku. "pokonya nggak. aku nggak mau dipreteli pertanyaan macam-macam dan menyinggung."
"oooh. Ok." Jawab si pelatuk kunyuk. pelatuknya agak murung ke bawah sejenak, lalu terangkat lagi. "hey. gimana kalau kita keluar saja. nggak ada salahnya, kan? kali aja di depan ada anak-anak lagi pada nongkrong."
aku mengerutkan kedua alis. benar juga kata si pelatuk kunyuk. daripada aku terkurung di ruang kotak ini, lebih baik aku keluar saja. aku bisa beli bakso atau sop buah. lebih syukur lagi kalau ada teman-temanku di depan. aku bisa menghilangkan kebosanan dengan mereka.
ngomong-ngomong, ternyata si pelatuk kunyuk pintar juga. aku tersenyum, bangkit dari kasur sialan, mengganti celana tidurku dengan jeans, menyisir rambut, dan berangkatlah aku sendirian tanpa kawan ke depan. kau tahu kan dengan arti depan? itu berarti, ke jalan. ke pusat keramaian. ke tempat dimana orang-orang berjualan.
Sampai depan, aku celingak celinguk sendiri. Tukang bakso langgananku ternyata tidak jualan. Jalanan juga sepi. Aku hanya melihat beberapa tukang ojek yang sedang main kartu di atas lantai halaman toko. aku seperti seorang tanpa tujuan. berdiri di depan gang sambil lirik kiri kanan dan berpikir "kemanakah kaki gue harus melangkah, huh?"
"YAYA!" aku mendengar teriakan seseorang memanggilku. Aku memutar kepalaku dan berhenti di tubuh gadis pendek berbetis besar. rambut panjangnya diikat ke belakang, dan dia sedang melambai-lambaikan tangannya kepadaku sambil tersenyum dengan lebar. sebenarnya sih itu bukan senyuman. tapi cekikikan tidak jelas. begitulah Dessy.
"pasti kesepian ya nggak ada gue di rumah." Dessy berdiri di depanku.
"ih. sorry. gue cuma ngidam aja pengen bakso." kataku. "tapi emang nasib. giliran pengen bakso, eh tukang baksonya malah nggak jualan."
"emangnya lu belum makan?" tanya Dessy.
aku menggelengkan kepala. dan aku memang jujur. aku memang sedang kelaparan, dan ini bukan alasan.
"gue juga laper. yaudah. kita beli nasi goreng aja yuk," ajaknya, dan aku pun setuju.
---------------------
sambil memandangi tukang nasi goreng mengacak-acak nasi di penggorengan, Dessy berceloteh tentang 'apa saja yang dia lakukan hari ini' dan 'kejadian apa saja yang terjadi pada hari ini'. ini sebenarnya seperti sebuah ritual yang wajib di lakukan olehnya. bercerita, bercerita, dan bercerita. laporan, laporan, dan laporan. seperti patung anjing di dashboard mobil, aku hanya bisa menganggukkan kepala dan sesekali mengeluarkan ekspresi seolah mendengarkan. padahal sebenarnya aku sedang menatap kosong ke penggorengan. kau tahu kan betapa nikmatnya sebuah tatapan kosong? kau tahu kan betapa susahnya melepaskan diri dari jeratan tatapan kosong? ya. begitupun aku sekarang. Suara Dessy terdengar seperti dengungan tawon yang jelek. bergaung dan tidak jelas.
"HEY!" suara Dessy cukup keras di telinga, namun tidak berhasil membuatku melepaskan tatapan dari penggorengan. aku malas berkedip. aku malas melirikkan kepalaku. aku juga malas berkata. tapi, aku tahu Dessy bangun dari kursi di sebelahku menuju ke luar. mungkin dia bertemu dengan temannya. dan aku tidak terlalu peduli itu.
Aku terperejat. Tukang nasi goreng membangunkanku dari lamunan kosong.
"berapa mang?" kataku.
"12 ribu, neng,"
"dari gue aja Ya!" tiba-tiba Dessy menghampiriku sambil mengeluarkan satu lembar lima puluh ribu dari dompetnya. tapi, saat ini bukanlah Dessy yang jadi pusat perhatianku sekarang. tapi, pria yang berdiri di belakangnya. Banu.
Aku terperejat. Tukang nasi goreng membangunkanku dari lamunan kosong.
"berapa mang?" kataku.
"12 ribu, neng,"
"dari gue aja Ya!" tiba-tiba Dessy menghampiriku sambil mengeluarkan satu lembar lima puluh ribu dari dompetnya. tapi, saat ini bukanlah Dessy yang jadi pusat perhatianku sekarang. tapi, pria yang berdiri di belakangnya. Banu.
No comments:
Post a Comment