Kangen Mama.
Persembahanku buat Mama:
1. Bangun pagi. Mamaku selalu bilang kalau bangun siang adalah temannya setan. dia juga bilang bangun siang mendekatkan kita pada kefakiran (kemiskinan). Dia juga bilang bangun siang adalah pemalasan. BETUL Mam. sekarang waktunya aku bangun PAGI dan kejar MIMPI.
2. Cari uang yang banyak buat beliin Mama perhiasan dan nambahin tabungannya. Amin. Mudah-mudahan Allah mengabulkan doa-ku.
3. Mencari pria serius yang mau menikahiku. sebenarnya sih ini persembahan untukku juga. tapi, alangkah senangnya kalau bisa menikah secepatnya dan membuat kedua orang tuaku tenang di rumah tanpa repot memikirkan bagaimana nasib masa depanku. Allah Maha tahu yang terbaik.
4. Aku mau pulang kampung sekarang.....
Tuesday, April 5, 2011
Wednesday, March 23, 2011
Stupidity
Rambut panjang gadis itu digerai. kulitnya sawo matang, hidungnya mancung, dan dia memiliki mata bulat yang indah. dia berdiri sendiri di tengah-tengah keramaian sambil memandangi layar telepon genggam di tangan kanannya.
Walaupun wajahnya dipasang dengan mimik setenang mungkin, tapi dia sedang gelisah. beberapa kali dia melirik jam tangannya lalu mendesah pendek.
"sial! sepertinya gue dikerjain lagi!" katanya dalam hati.
dia kemudian menjatuhkan telepon genggamnya ke dalam tas kulitnya, lalu pergi dengan langkah kesal yang ditekan-tekan.
-----------------------------------
"Sial! gue telat lagi!" kata seorang pria ceking sambil membanting pintu mobilnya dengan kesal.
"Sorry kawan. gue nggak tahu kalau jalanan bakalan macet banget!"
"sudah dua kali, sob!" kata pria ceking itu sambil mengangkat dua jari tangan kanannya di depan muka kawannya. "dan ini semua gara-gara lo!"
"loh, kok jadi nyalahin gue?" kata pria yang satu lagi dengan keberatan. dia tiba-tiba berhenti melangkah dan berdiri tepat di depan kawannya. "dengar. mungkin minggu kemarin memang total salah gue. tapi hari ini, bukan total kesalahan gue semua." katanya "lo tahu sendiri kan, tadi gue sudah berusaha sekeras mungkin mengakhiri obrolan. tapi, ya lo tahu sendiri pak Abdul gimana. dan.... maksud gue, apa yang lo lakuin tadi coba? lo nggak berusaha apa-apa. lo cuma bisa diem, Dre!--jadi, gue minta kali ini lo nggak nyalahin gue seutuhnya."
"ah, sialan lo, Van! kalau lo nggak maksa-maksa gue anterin lo, gue nggak bakalan telat kaya gini juga. Urusan pak abdul itu kan bukan kerjaan gue."
Ivan membesarkan kedua bola matanya "maksa?" katanya dengan nada tidak percaya "lo bilang gue tadi maksa?" katanya sekali lagi.
"kalau bukan maksa, lalu apa namanya?" jawab Andre dingin.
suara telepon berbunyi dari balik saku celana Ivan.................. dia tidak menggubrisnya.
suara telepon Ivan berbunyi lagi................. Dia tidak menghiraukannya lagi.
"sudahlah," kata Andre, "lo tunggu gue di mobil saja. gue mau cari Erna dulu," andre pun pergi.
----------------------------------
Ivan mengerang dengan keras saat telepon genggamnya berbunyi lagi. dia ingin sekali melempar telepon gengam sialan itu ke tembok basement Mall sampai hancur berkeping-keping. tapi, untung saja dia masih cukup waras untuk tidak merusak barang mahal miliknya.
akhirnya, dia merogoh saku celananya, dan membeku dengan seketika ketika menatap layar handphone-nya yang berkedip-kedip "apa gue nggak salah lihat?" katanya dengan perasaan bimbang. apakah dia harus menjawabnya?
----------------------------------
"apa susahnya sih tinggal pencet tombol saja,"
Ivan tersentak. "Brengsek! lo bikin gue kaget saja!" katanya sambil mengusap-usap dadanya.
Gadis itu tidak tersenyum. dia memindahkan telepon genggam dari telinga ke dalam tas kulitnya, kemudian membuka pintu mobil dan duduk berdempet di samping Ivan yang tampak risih.
"mau lo apa sih, Van?" kata gadis itu dengan nada sesantai mungkin.
"hah?" ivan pura-pura bodoh, "maksud lo apaan sih?" dia garuk-garuk kepala.
Gadis itu mendesah pendek, lalu menatap mata Ivan yang jernih, kulitnya yang putih, bibirnya yang merah, dan rahang-rahangnya yang tegas. "lo ganteng, Van," katanya, "jauh lebih ganteng dari si ceking Andre dan cowo-cowo gue sebelumnya.--lo... perfect."
Ivan membisu.
"sekarang gue tanya lagi," lanjut Erna dengan nada selembut mungkin,"mau lo dari gue itu apa?"
Ivan mengangkat kedua pundaknya.
"Van," Erna menarik dagu Ivan menghadap wajahnya. kini mereka saling bertatapan. "mau lo apa, Van?"
Ivan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"nggak tahu? atau... lo nggak mau gue tahu?"
sekali lagi, Ivan menggelengkan kepalanya.
Erna menarik nafas yang panjang sekali. dia bingung. dia sudah lelah dengan semua ini. dia sedang berpikir.
suasana hening sejenak.
"gue.... " Ucap Ivan dengan ragu-ragu "gue gay."
"gue tahu," jawab Irna, "justru karena hal itu gue jadi semakin bingung, Van. Oke, lo gay. gue sama sekali nggak ada masalah dengan itu. tapi kenapa lo suka sama semua cowo yang dekat dengan gue?"
"bukan itu, Na," katanya,
"jadi?"
"gue... gue juga nggak tahu, Na."
Erna memutarkan kedua bola matanya, "ya tuhan. apa sih yang lo tahu, huh? dari tadi lo cuma bisa angkat pundak, geleng kepala, dan bilang nggak tahu. apa sih mau lo?" kata Erna kesal, "jangan-jangan gay bukan cuma satu-satunya penyakit lo. tapi..."
"tapi apa?"
Erna menggelengkan kepalanya.
"tapi apa?"
"sakit jiwa, psikopat...."
"sakit jiwa?" kata Evan tidak percaya.
suasana hening lagi sejenak.
"Ok. mungkin lo benar. bisa jadi gue memang sakit jiwa." katanya. dia lalu mengangkat kakinya dan duduk di jok depan setir lalu menyalakan mesin mobil. Erna terlihat kebingungan.
"lo mau apa, Van?"
"lo bilang gue sakit jiwa kan? psycopat, kan?"
"benar! terus lo mau apa sekarang?"
Ivan menginjak gas mobil Andre dengan kencang,
"ANJRIT! LO MAU APA, VAN? TURUNIN GUE SEKARANG! TURUNIN GUE!"
"LO BILANG GUE PSYCOPAT, KAN?" kata Ivan dengan wajah lurus menembus kaca depan mobil. tembok basement putih di depannya semakin mendekat.
"GA LUCU ANJIR! GA LUCU! HENTIKAN, VAN! GUE NGGAK MAU MATI SEKARANG! GUE MASIH PENGEN BARENG SAMA LO! GUE SUKA SAMA LO!"
"apa?" jantung Ivan seakan berhenti. Erna suka kepadaku?
dengan spontan wajah Ivan terpaku ke wajah Erna. mereka saling bertatapan sejenak sampai kemudian.......................... BIIP
----------------------------------
"Erna... Erna...." panggil Ivan dengan suara yang sangat pelan. wajah dan tubuhnya bersimbah darah. "gue bukan Gay, Na... gue bukan gay." Erna terpejam di sampingnya, diam, kaku, bersimbah darah, dan tak bernafas.
Monday, March 21, 2011
#2 kamu kamu dan kamu
Hari ini aku ingin keluar. Aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa bosan, penat, dan pegal karena terus saja menidurkan diri di sofa keras ruang tengah sambil nonton gossip dan beberapa acara di TV yang sebenarnya tidak benar-benar aku tonton. Kakakku sudah bolak-balik beberapa kali sambil berdeham-deham. aku pikir mungkin dia sedang memberiku isyarat kalau "sekarang giliran gue nih yang nonton".
Setelah merasa terganggu dengan dehaman-dehamannya, aku pun bangun dari sofa, menggeliat beberapa kali, masuk ke kamar, lalu menjatuhkan badanku lagi ke tempat tidur. aku memang ingin keluar. tapi, kemana? dengan siapa? Dessy tidak ada di rumahnya, dan aku seperti seekor burung kecil yang kehilangan induknya. kesepian dan menderita.
"handphone ku kemana?" aku bergumam sendiri sambil mengodok bawah bantal, menyingkap selimut, menjatuhkan dua guling, dan... ahh. Handphone ku ketemu. dia sedang terongok tidak berdaya di sudut tempat tidur. aku menggapainya dan menatap layarnya. hmm. tidak ada satu SMS atau telpon pun yang masuk. aku melemparnya lagi.
"Arrrghhhhhhhhhhhhhhh!!!" aku menggeliat sambil meraung keras. aku juga mengacak-acak seprai jingga dengan kakiku. aku lalu berguling ke kanan dan ke kiri, dan melakukan gerakan-gerakan tidak jelas lainnya. setelah agak lelah, aku lalu menghadap tembok, dan bermain-main dengan bayangan tanganku. aku membentuk burung sedang terbang, laba-laba, dan pelatuk burung yang bisa bicara. Alhasil, sekarang aku bicara dengan diriku sendiri.
Bayangan tangan kananku kuberi nama si pelatuk kunyuk. dia bertanya, "lagi ngapain, Yaya?"
"kelihatannya lagi apa?" aku menjawab sambil menatap bayangan tanganku sendiri di tembok.
"hmm..." si pelatuk kunyuk bergumam. sepertinya dia sedang berpikir. "aku tahu, kau sedang bosan. tapi, apa nggak ada kegiatan lain? hmm. misalnya, ke... salon?"
"WHAT? ke salon?" aku memutarkan dua bola mataku. "satu-satunya salon yang ada di sini, namanya Jelita. dan kamu tahu sendiri kalau salon itu benar-benar.... buuuuu... ruk. kemarin aku potong rambut saja sampai salah model. creambath pijatannya nggak enak. dan nggak hanya itu saja, Si Jelitanya ini tuh biang gossip." kataku pada bayangan tanganku. "pokonya nggak. aku nggak mau dipreteli pertanyaan macam-macam dan menyinggung."
"oooh. Ok." Jawab si pelatuk kunyuk. pelatuknya agak murung ke bawah sejenak, lalu terangkat lagi. "hey. gimana kalau kita keluar saja. nggak ada salahnya, kan? kali aja di depan ada anak-anak lagi pada nongkrong."
aku mengerutkan kedua alis. benar juga kata si pelatuk kunyuk. daripada aku terkurung di ruang kotak ini, lebih baik aku keluar saja. aku bisa beli bakso atau sop buah. lebih syukur lagi kalau ada teman-temanku di depan. aku bisa menghilangkan kebosanan dengan mereka.
ngomong-ngomong, ternyata si pelatuk kunyuk pintar juga. aku tersenyum, bangkit dari kasur sialan, mengganti celana tidurku dengan jeans, menyisir rambut, dan berangkatlah aku sendirian tanpa kawan ke depan. kau tahu kan dengan arti depan? itu berarti, ke jalan. ke pusat keramaian. ke tempat dimana orang-orang berjualan.
Sampai depan, aku celingak celinguk sendiri. Tukang bakso langgananku ternyata tidak jualan. Jalanan juga sepi. Aku hanya melihat beberapa tukang ojek yang sedang main kartu di atas lantai halaman toko. aku seperti seorang tanpa tujuan. berdiri di depan gang sambil lirik kiri kanan dan berpikir "kemanakah kaki gue harus melangkah, huh?"
"YAYA!" aku mendengar teriakan seseorang memanggilku. Aku memutar kepalaku dan berhenti di tubuh gadis pendek berbetis besar. rambut panjangnya diikat ke belakang, dan dia sedang melambai-lambaikan tangannya kepadaku sambil tersenyum dengan lebar. sebenarnya sih itu bukan senyuman. tapi cekikikan tidak jelas. begitulah Dessy.
"pasti kesepian ya nggak ada gue di rumah." Dessy berdiri di depanku.
"ih. sorry. gue cuma ngidam aja pengen bakso." kataku. "tapi emang nasib. giliran pengen bakso, eh tukang baksonya malah nggak jualan."
"emangnya lu belum makan?" tanya Dessy.
aku menggelengkan kepala. dan aku memang jujur. aku memang sedang kelaparan, dan ini bukan alasan.
"gue juga laper. yaudah. kita beli nasi goreng aja yuk," ajaknya, dan aku pun setuju.
---------------------
sambil memandangi tukang nasi goreng mengacak-acak nasi di penggorengan, Dessy berceloteh tentang 'apa saja yang dia lakukan hari ini' dan 'kejadian apa saja yang terjadi pada hari ini'. ini sebenarnya seperti sebuah ritual yang wajib di lakukan olehnya. bercerita, bercerita, dan bercerita. laporan, laporan, dan laporan. seperti patung anjing di dashboard mobil, aku hanya bisa menganggukkan kepala dan sesekali mengeluarkan ekspresi seolah mendengarkan. padahal sebenarnya aku sedang menatap kosong ke penggorengan. kau tahu kan betapa nikmatnya sebuah tatapan kosong? kau tahu kan betapa susahnya melepaskan diri dari jeratan tatapan kosong? ya. begitupun aku sekarang. Suara Dessy terdengar seperti dengungan tawon yang jelek. bergaung dan tidak jelas.
"HEY!" suara Dessy cukup keras di telinga, namun tidak berhasil membuatku melepaskan tatapan dari penggorengan. aku malas berkedip. aku malas melirikkan kepalaku. aku juga malas berkata. tapi, aku tahu Dessy bangun dari kursi di sebelahku menuju ke luar. mungkin dia bertemu dengan temannya. dan aku tidak terlalu peduli itu.
Aku terperejat. Tukang nasi goreng membangunkanku dari lamunan kosong.
"berapa mang?" kataku.
"12 ribu, neng,"
"dari gue aja Ya!" tiba-tiba Dessy menghampiriku sambil mengeluarkan satu lembar lima puluh ribu dari dompetnya. tapi, saat ini bukanlah Dessy yang jadi pusat perhatianku sekarang. tapi, pria yang berdiri di belakangnya. Banu.
Aku terperejat. Tukang nasi goreng membangunkanku dari lamunan kosong.
"berapa mang?" kataku.
"12 ribu, neng,"
"dari gue aja Ya!" tiba-tiba Dessy menghampiriku sambil mengeluarkan satu lembar lima puluh ribu dari dompetnya. tapi, saat ini bukanlah Dessy yang jadi pusat perhatianku sekarang. tapi, pria yang berdiri di belakangnya. Banu.
Tuesday, March 1, 2011
#1 First sight
Berhubungan lama atau tidaknya dengan seseorang, tidak memberikan jaminan sedikitpun kalau dia adalah jodoh kita.
Ya. Inilah yang aku alami sekarang. Dan inilah ceritaku.
-----------------
2004.
Entah kenapa tiba-tiba aku tertarik dengan seseorang. Dia tinggi, kurus, berwajah kecil, kening lebar, dan rambut yang sedikit ikal. kulitnya tidak begitu putih, namun tidak bisa dibilang hitam juga. penampilannya cukup rapi dan terawat. Sebenarnya aku kenal dia. tentu saja kenal, karena aku hidup di lingkungan yang kecil. jarak rumahku dengan dia hanya beberapa ratus meter saja.
Aku tinggal di sebuah pedesaan kecil di garut. Kau bisa bayangkan sendiri sebuah desa yang terdiri dari satu terminal, satu pasar tradisional, satu SMA negeri, satu SMP negeri, dan tentu saja satu kecamatan, dan juga sawah yang luas. tapi aku tidak tinggal di sekitar pesawahan. aku tinggal di sebuah kampung kecil nan sempit yang dekat dengan pusat keramaian desa alias terminal.
di tahun ini, umurku masih 19 tahun. saat itu aku masih dalam keadaan labil. dalam setahun, aku bisa berganti pacar lima kali, dan rata-rata mereka saling mengenal satu sama lain. tentu saja saling kenal (bahkan ada yang bersahabat) karena mereka tinggal di desa kecil ini, ditambah pula, mereka sekolah di sekolah yang sama. maka jangan heran kalau namaku di desa ini sangatlah terkenal. bukan karena alasan yang baik, tapi sebaliknya. aku terkenal sebagai perempuan yang nakal. tidak hanya nakal dengan 'pria', tapi juga dengan hal lain.
Pernah suatu ketika, aku digosipkan telah menggugurkan kandungan. Ya Allah. aku pikir itu keterlaluan. Akhirnya, karena aku merasa di fitnah dan merasa harus meluruskan semua ini, aku lalu mengusut siapa biang di balik gossip ini. dan ternyata, orang itu tidak lain adalah tetanggaku sendiri. jarak rumahku dengannya hanya berselang beberapa rumah saja. dan yang membuatku heran, dia tidak tahu apa-apa tentang aku. dia hanya orang rumahan yang sehari-harinya duduk di pekarangan rumah sambil mengurus ayam-ayamnya.
Kemudian, aku datang ke rumahnya dan bertanya baik-baik, kenapa dia bisa memfitnah aku seperti itu. dia mengatakan kalau dia melihatku malam-malam boncengan motor ke arah Sumedang dengan pria.
HAH?
HANYA BONCENGAN DENGAN PRIA SAJA?
Argghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh...........! ingin teriak rasanya.
but, well.... begitulah gambaran lingkungan masyarakat yang aku tinggali. Walaupun gossip seperti ini memang selalu berhasil membuat emosiku memuncak, tapi akhirnya aku hanya bisa pasrah saja. Sifatku yang super cuek, bergaul tanpa pandang bulu, dan tidak peduli dengan hal lain membuatku sadar kalau fitnah seperti ini adalah sebagian bentuk dari sebuah resiko yang harus aku terima.
Inti cerita, saat aku tiba-tiba tertarik dengan pria ini, namaku di desa ini sudah sangatlah hitam. Ketika namaku di sebutkan saja, mungkin orang-orang akan langsung membayangkan sesuatu yang buruk. tapi, sekali lagi, aku tidak peduli. aku hidup di dalam duniaku, dan bukan dunia mereka. begitulah yang aku pikir saat itu.
-------------------------
Aku masih ingat dengan jelas. waktu itu dia memakai baju merah, celana jeans selutut, dan rambut pendek yang dibelah tengah. Saat itu aku melihatnya dari kejauhan saja. dia sedang cekikikan dengan teman-temannya, dan entah kenapa aku merasa kalau dia lucu. Temanku, Dessy, sampai mencubitku karena aku tidak bisa melepaskan pandangan sedikitpun darinya. dan, kalau aku sudah tertarik dengan pria, itu berarti aku harus mendapatkannya.
Sepulangnya ke rumah, aku langsung masuk ke kamar, membantingkan diri ke tempat tidur, dan menatap layar handphone. Aku masih ragu-ragu antara SMS Dessy atau tidak. Aku ingin sekali mengatakan padanya "Salamin dong sama B," tapi, aku ragu. Aku ragu karena aku baru saja putus dengan cowo yang tidak lain adalah temannya dia. tidak hanya itu, aku juga sedang dekat dengan cowo yang sudah dianggapnya kakak sendiri. jadi, aku pikir, kalau aku bilang dengan jujur dan blak-blakan kalau aku suka dengan B, alih-alih pertolongan, yang aku dengar mungkin hanya cercaan saja.
Ya. Pertolongan. aku bilang pertolongan, karena Dessy kenal dekat dengan B. dia bisa jadi orang yang menghubungkan aku dengan B. Dia bisa jadi pahlawan yang membuatku dekat dengan B. tapi sayangnya, rayuan, bujukan, bahkan suap menyuap tampaknya tidak jadi solusi lagi.
Subscribe to:
Comments (Atom)