Rambut panjang gadis itu digerai. kulitnya sawo matang, hidungnya mancung, dan dia memiliki mata bulat yang indah. dia berdiri sendiri di tengah-tengah keramaian sambil memandangi layar telepon genggam di tangan kanannya.
Walaupun wajahnya dipasang dengan mimik setenang mungkin, tapi dia sedang gelisah. beberapa kali dia melirik jam tangannya lalu mendesah pendek.
"sial! sepertinya gue dikerjain lagi!" katanya dalam hati.
dia kemudian menjatuhkan telepon genggamnya ke dalam tas kulitnya, lalu pergi dengan langkah kesal yang ditekan-tekan.
-----------------------------------
"Sial! gue telat lagi!" kata seorang pria ceking sambil membanting pintu mobilnya dengan kesal.
"Sorry kawan. gue nggak tahu kalau jalanan bakalan macet banget!"
"sudah dua kali, sob!" kata pria ceking itu sambil mengangkat dua jari tangan kanannya di depan muka kawannya. "dan ini semua gara-gara lo!"
"loh, kok jadi nyalahin gue?" kata pria yang satu lagi dengan keberatan. dia tiba-tiba berhenti melangkah dan berdiri tepat di depan kawannya. "dengar. mungkin minggu kemarin memang total salah gue. tapi hari ini, bukan total kesalahan gue semua." katanya "lo tahu sendiri kan, tadi gue sudah berusaha sekeras mungkin mengakhiri obrolan. tapi, ya lo tahu sendiri pak Abdul gimana. dan.... maksud gue, apa yang lo lakuin tadi coba? lo nggak berusaha apa-apa. lo cuma bisa diem, Dre!--jadi, gue minta kali ini lo nggak nyalahin gue seutuhnya."
"ah, sialan lo, Van! kalau lo nggak maksa-maksa gue anterin lo, gue nggak bakalan telat kaya gini juga. Urusan pak abdul itu kan bukan kerjaan gue."
Ivan membesarkan kedua bola matanya "maksa?" katanya dengan nada tidak percaya "lo bilang gue tadi maksa?" katanya sekali lagi.
"kalau bukan maksa, lalu apa namanya?" jawab Andre dingin.
suara telepon berbunyi dari balik saku celana Ivan.................. dia tidak menggubrisnya.
suara telepon Ivan berbunyi lagi................. Dia tidak menghiraukannya lagi.
"sudahlah," kata Andre, "lo tunggu gue di mobil saja. gue mau cari Erna dulu," andre pun pergi.
----------------------------------
Ivan mengerang dengan keras saat telepon genggamnya berbunyi lagi. dia ingin sekali melempar telepon gengam sialan itu ke tembok basement Mall sampai hancur berkeping-keping. tapi, untung saja dia masih cukup waras untuk tidak merusak barang mahal miliknya.
akhirnya, dia merogoh saku celananya, dan membeku dengan seketika ketika menatap layar handphone-nya yang berkedip-kedip "apa gue nggak salah lihat?" katanya dengan perasaan bimbang. apakah dia harus menjawabnya?
----------------------------------
"apa susahnya sih tinggal pencet tombol saja,"
Ivan tersentak. "Brengsek! lo bikin gue kaget saja!" katanya sambil mengusap-usap dadanya.
Gadis itu tidak tersenyum. dia memindahkan telepon genggam dari telinga ke dalam tas kulitnya, kemudian membuka pintu mobil dan duduk berdempet di samping Ivan yang tampak risih.
"mau lo apa sih, Van?" kata gadis itu dengan nada sesantai mungkin.
"hah?" ivan pura-pura bodoh, "maksud lo apaan sih?" dia garuk-garuk kepala.
Gadis itu mendesah pendek, lalu menatap mata Ivan yang jernih, kulitnya yang putih, bibirnya yang merah, dan rahang-rahangnya yang tegas. "lo ganteng, Van," katanya, "jauh lebih ganteng dari si ceking Andre dan cowo-cowo gue sebelumnya.--lo... perfect."
Ivan membisu.
"sekarang gue tanya lagi," lanjut Erna dengan nada selembut mungkin,"mau lo dari gue itu apa?"
Ivan mengangkat kedua pundaknya.
"Van," Erna menarik dagu Ivan menghadap wajahnya. kini mereka saling bertatapan. "mau lo apa, Van?"
Ivan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"nggak tahu? atau... lo nggak mau gue tahu?"
sekali lagi, Ivan menggelengkan kepalanya.
Erna menarik nafas yang panjang sekali. dia bingung. dia sudah lelah dengan semua ini. dia sedang berpikir.
suasana hening sejenak.
"gue.... " Ucap Ivan dengan ragu-ragu "gue gay."
"gue tahu," jawab Irna, "justru karena hal itu gue jadi semakin bingung, Van. Oke, lo gay. gue sama sekali nggak ada masalah dengan itu. tapi kenapa lo suka sama semua cowo yang dekat dengan gue?"
"bukan itu, Na," katanya,
"jadi?"
"gue... gue juga nggak tahu, Na."
Erna memutarkan kedua bola matanya, "ya tuhan. apa sih yang lo tahu, huh? dari tadi lo cuma bisa angkat pundak, geleng kepala, dan bilang nggak tahu. apa sih mau lo?" kata Erna kesal, "jangan-jangan gay bukan cuma satu-satunya penyakit lo. tapi..."
"tapi apa?"
Erna menggelengkan kepalanya.
"tapi apa?"
"sakit jiwa, psikopat...."
"sakit jiwa?" kata Evan tidak percaya.
suasana hening lagi sejenak.
"Ok. mungkin lo benar. bisa jadi gue memang sakit jiwa." katanya. dia lalu mengangkat kakinya dan duduk di jok depan setir lalu menyalakan mesin mobil. Erna terlihat kebingungan.
"lo mau apa, Van?"
"lo bilang gue sakit jiwa kan? psycopat, kan?"
"benar! terus lo mau apa sekarang?"
Ivan menginjak gas mobil Andre dengan kencang,
"ANJRIT! LO MAU APA, VAN? TURUNIN GUE SEKARANG! TURUNIN GUE!"
"LO BILANG GUE PSYCOPAT, KAN?" kata Ivan dengan wajah lurus menembus kaca depan mobil. tembok basement putih di depannya semakin mendekat.
"GA LUCU ANJIR! GA LUCU! HENTIKAN, VAN! GUE NGGAK MAU MATI SEKARANG! GUE MASIH PENGEN BARENG SAMA LO! GUE SUKA SAMA LO!"
"apa?" jantung Ivan seakan berhenti. Erna suka kepadaku?
dengan spontan wajah Ivan terpaku ke wajah Erna. mereka saling bertatapan sejenak sampai kemudian.......................... BIIP
----------------------------------
"Erna... Erna...." panggil Ivan dengan suara yang sangat pelan. wajah dan tubuhnya bersimbah darah. "gue bukan Gay, Na... gue bukan gay." Erna terpejam di sampingnya, diam, kaku, bersimbah darah, dan tak bernafas.