Tuesday, March 1, 2011

#1 First sight

Berhubungan lama atau tidaknya dengan seseorang, tidak memberikan jaminan sedikitpun kalau dia adalah jodoh kita. 

Ya. Inilah yang aku alami sekarang. Dan inilah ceritaku.

-----------------

2004.

Entah kenapa tiba-tiba aku tertarik dengan seseorang. Dia tinggi, kurus, berwajah kecil, kening lebar, dan rambut yang sedikit ikal. kulitnya tidak begitu putih, namun tidak bisa dibilang hitam juga. penampilannya cukup rapi dan terawat. Sebenarnya aku kenal dia. tentu saja kenal, karena aku hidup di lingkungan yang kecil. jarak rumahku dengan dia hanya beberapa ratus meter saja. 

Aku tinggal di sebuah pedesaan kecil di garut. Kau bisa bayangkan sendiri sebuah desa yang terdiri dari satu terminal, satu pasar tradisional, satu SMA negeri, satu SMP negeri, dan tentu saja satu kecamatan, dan juga sawah yang luas. tapi aku tidak tinggal di sekitar pesawahan. aku tinggal di sebuah kampung kecil nan sempit yang dekat dengan pusat keramaian desa alias terminal.  

di tahun ini, umurku masih 19 tahun. saat itu aku masih dalam keadaan labil. dalam setahun, aku bisa berganti pacar lima kali, dan rata-rata mereka saling mengenal satu sama lain. tentu saja saling kenal (bahkan ada yang bersahabat) karena mereka tinggal di desa kecil ini, ditambah pula, mereka sekolah di sekolah yang sama. maka jangan heran kalau namaku di desa ini sangatlah terkenal. bukan karena alasan yang baik, tapi sebaliknya. aku terkenal sebagai perempuan yang nakal. tidak hanya nakal dengan 'pria', tapi juga dengan hal lain. 

Pernah suatu ketika, aku digosipkan telah menggugurkan kandungan. Ya Allah. aku pikir itu keterlaluan. Akhirnya, karena aku merasa di fitnah dan merasa harus meluruskan semua ini, aku lalu mengusut siapa biang di balik gossip ini. dan ternyata, orang itu tidak lain adalah tetanggaku sendiri. jarak rumahku dengannya hanya berselang beberapa rumah saja. dan yang membuatku heran, dia tidak tahu apa-apa tentang aku. dia hanya orang rumahan yang sehari-harinya duduk di pekarangan rumah sambil mengurus ayam-ayamnya. 

Kemudian, aku datang ke rumahnya dan bertanya baik-baik, kenapa dia bisa memfitnah aku seperti itu. dia mengatakan kalau dia melihatku malam-malam boncengan motor ke arah Sumedang dengan pria. 

HAH?
HANYA BONCENGAN DENGAN PRIA SAJA? 
Argghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh...........! ingin teriak rasanya.

but, well.... begitulah gambaran lingkungan masyarakat yang aku tinggali. Walaupun gossip seperti ini memang selalu berhasil membuat emosiku memuncak, tapi akhirnya aku hanya bisa pasrah saja. Sifatku yang super cuek, bergaul tanpa pandang bulu, dan tidak peduli dengan hal lain membuatku sadar kalau fitnah seperti ini adalah sebagian bentuk dari sebuah resiko yang harus aku terima.

Inti cerita, saat aku tiba-tiba tertarik dengan pria ini, namaku di desa ini sudah sangatlah hitam. Ketika namaku di sebutkan saja, mungkin orang-orang akan langsung membayangkan sesuatu yang buruk. tapi, sekali lagi, aku tidak peduli. aku hidup di dalam duniaku, dan bukan dunia mereka. begitulah yang aku pikir saat itu.

-------------------------

Aku masih ingat dengan jelas. waktu itu dia memakai baju merah, celana jeans selutut, dan rambut pendek yang dibelah tengah. Saat itu aku melihatnya dari kejauhan saja. dia sedang cekikikan dengan teman-temannya, dan entah kenapa aku merasa kalau dia lucu. Temanku, Dessy, sampai mencubitku karena aku tidak bisa melepaskan pandangan sedikitpun darinya. dan, kalau aku sudah tertarik dengan pria, itu berarti aku harus mendapatkannya. 

Sepulangnya ke rumah, aku langsung masuk ke kamar, membantingkan diri ke tempat tidur, dan menatap layar handphone. Aku masih ragu-ragu antara SMS Dessy atau tidak. Aku ingin sekali mengatakan padanya "Salamin dong sama B," tapi, aku ragu. Aku ragu karena aku baru saja putus dengan cowo yang tidak lain adalah temannya dia. tidak hanya itu, aku juga sedang dekat dengan cowo yang sudah dianggapnya kakak sendiri. jadi, aku pikir, kalau aku bilang dengan jujur dan blak-blakan kalau aku suka dengan B, alih-alih pertolongan, yang aku dengar mungkin hanya cercaan saja.

Ya. Pertolongan. aku bilang pertolongan, karena Dessy kenal dekat dengan B. dia bisa jadi orang yang menghubungkan aku dengan B. Dia bisa jadi pahlawan yang membuatku dekat dengan B. tapi sayangnya, rayuan, bujukan, bahkan suap menyuap tampaknya tidak jadi solusi lagi. 

No comments:

Post a Comment